Astakamedia.com – Aksi kejahatan jalanan dan gangster kembali menelan korban jiwa di Kota Bogor. Seorang pemuda berinisial MHP (20) meninggal dunia setelah menjadi sasaran serangan brutal sekelompok remaja bersenjata tajam di kawasan Kebon Pedes, Kecamatan Tanah Sareal, Kota Bogor, pada Minggu dini hari (14/6/2026).
Peristiwa mencekam tersebut bermula saat korban bersama rekan-rekannya sedang berkumpul di sekitar area rel Kebon Pedes. Secara mendadak, sekelompok pemuda asing datang dari arah yang tidak terduga dan langsung melakukan serangan membabi buta menggunakan senjata tajam.
Malangnya, MHP yang berada di lokasi tidak sempat melarikan diri hingga menjadi korban penganiayaan berat yang mengakibatkan hilangnya nyawa.
Tragedi berdarah ini memantik reaksi keras dari berbagai elemen masyarakat, salah satunya dari Founder Jendela Politik Muda, Boy Hidayat, S.Sos. Ia menegaskan bahwa aksi keji semacam ini tidak boleh ditoleransi lagi di Kota Hujan.
“Hal ini tidak dapat ditolerir lagi. Bogor adalah kota yang aman dan tentram dari gangguan gangster yang berkeliaran. Kejadian ini menjadi cerminan dari kurangnya kontrol yang dimulai dari lingkungan rumah hingga ke tingkatan pemerintah kota,” ujar Boy, Senin (15/6/2026).
Menurut Boy, fenomena kenakalan remaja yang menjurus pada tindakan kriminalitas ini terjadi karena hilangnya ruang aktualisasi diri bagi generasi muda. Banyak anak muda yang dinilai kehilangan arah dalam menyalurkan energi dan aspirasinya karena minimnya fasilitator.
”Kita semua harus peduli terhadap lingkungan dan generasi muda. Saat ini saya melihat mereka seperti tidak mengerti bagaimana menyalurkan aspirasi muda. Tidak adanya fasilitator dan wadah bagi mereka untuk mengembangkan ide dan kreativitas membuat mereka akhirnya melakukan hal yang tidak berguna,” cetus Boy.
Ia menambahkan, aksi brutal ini telah mencoreng citra Kota Bogor yang selama ini dikenal sebagai kota yang teduh, aman, nyaman, dan damai.
Boy mendesak agar Pemerintah Kota (Pemkot) Bogor segera mengambil tindakan tegas dan memberikan pembinaan terstruktur, mulai dari tingkat keluarga, sekolah, hingga lingkungan sosial.
Mengingat kasus ini telah masuk ke ranah hukum pidana berat, Boy meminta pihak Polsek Tanah Sareal hingga Polresta Bogor Kota untuk bergerak cepat mengusut tuntas kasus ini hingga ke meja hijau. Hukuman yang setimpal bagi para pelaku harus ditegakkan demi memberikan efek jera.
Selain penegakan hukum, Boy menaruh harapan besar agar Wali Kota Bogor, Dedie Rachim, memberikan perhatian khusus terhadap kasus ini.
“Saya harap Pak Walikota Bogor, Kang Dedie, dapat memberikan intervensi kepada jajarannya terkait penyelesaian masalah ini yang sudah masuk ke ranah kriminal,” lanjutnya.
Sebagai langkah preventif jangka panjang agar perilaku menyimpang remaja dapat diminimalisir, Boy menawarkan formula Tiga Pola yakni Pola Asuh, Pola Didik, dan Pola Pengawasan. Kunci utama ini harus digerakkan dari lingkungan paling kecil, yaitu keluarga.
Di sisi lain, ia juga mengajak seluruh anak muda di Kota Bogor untuk lebih peduli pada masa depan mereka dan menghindari krisis intelektual dengan cara bergabung ke dalam wadah yang legal dan produktif.
“Anak muda punya ide dan gagasan yang powerful, melimpah ruah, dan harus disalurkan ke lembaga-lembaga terkait. Kita punya organisasi kepemudaan sampai dengan partai politik. Ayo untuk anak muda Kota Bogor, salurkan ide kalian ke wadah yang tepat, jangan kepada wadah organisasi yang tidak bermanfaat sehingga merugikan diri sendiri,” pungkas Boy.***






