Astakamedia.com – Di tengah keragaman dan dinamika sosial yang mewarnai Semenanjung Malaya, lahir sebuah nama band yang tak sekadar menyebut identitas, melainkan mengangkat suara tentang kuasa dan kesadaran diri Imperial Dyslexia. Secara harfiah, nama Imperial Dyslexia.bermakna “penyakit kekuasaan”
Bagi para pendirinya, frasa tersebut bukan sekadar kiasan, melainkan cermin tentang bagaimana kekuasaan bisa mengubah cara pandang, membelokkan kebenaran, hingga menciptakan ketimpangan yang meresap ke dalam kehidupan bermasyarakat.
Berakar dari Kuala Lumpur, Menyuarakan Geopolitik dan Sejarah
Berdiri sejak rentang tahun 2021–2022 atas inisiatif Naz dan Shaz, grup musik beraliran progressive metal.ini menjadikan Kuala Lumpur sebagai pangkalan sekaligus mata pandang dalam melihat dunia.
Sejak awal terbentuk, Imperial Dyslexia memilih jalur yang tak mudah menganyam narasi sejarah, geopolitik, serta gejolak politik ke dalam lirik dan laras nada yang padat namun tetap menyentuh jiwa.
Perjalanan karya mereka mulai mewujud secara konkrit pada tahun 2023 lewat perilisan single bertajuk “Figura Idola” sebuah karya yang mengangkat tema tentang pementasan berhala dan bayang-bayang sosok yang didewakan.
Proses kreatif tersebut dipenuhi suka dan duka. Menciptakan musik di tengah masyarakat majemuk Malaysia menuntut kepekaan sekaligus keberanian.
Setiap nada lahir dari perbincangan, perbedaan pandangan, hingga upaya menyelaraskan suara yang beragam persis seperti realitas sosial yang hidup di negeri jiran tersebut.
Menjelajah Panggung Hingga Menembus Batas Negara
Karya-karya Imperial Dyslexia kemudian merambah panggung di hampir seluruh penjuru Semenanjung mulai dari Perak, Pulau Pinang, Johor, hingga Pahang. Bagi mereka, panggung-panggung pertunjukan bukan sekadar tempat tampil, melainkan ruang untuk menguji gagasan secara langsung di hadapan pendengar.
Kini, saat melangkah menuju panggung yang lebih luas, termasuk untuk pertama kalinya tampil di luar batas negara, mereka memegang satu pelajaran berharga sebelum menyapa dunia luar, sebuah karya harus berdiri kokoh di atas fondasi yang nyata.
“Jika ingin tampil ke luar negeri, persiapkanlah karya matang seperti EP, album, atau karya fisik yang bisa dipegang dan dikenali orang,” ujar Fazi, drummer Imperial Dyslexia.
Bagi mereka, itulah bekal utama agar kehadiran seorang musisi tidak sekadar lewat, tetapi meninggalkan jejak yang mendalam.
Refleksi Jiwa dan Kekuasaan Lewat Karya Digital
Hingga saat ini, Imperial Dyslexia telah merilis karya yang dapat diakses di berbagai platform musik digital.
Salah satunya adalah mini album (EP) bertajuk Tirani Empayar yang memuat nomor-nomor tajam seperti “Sirna Holistik”dan “Atma Pidana”. Tiap judul lagu mengajak pendengar merenungi jiwa, kekuasaan, dan kondisi sosial yang mengelilingi manusia.
Bagi Imperial Dyslexia, musik bukan sekadar hiburan semata, melainkan cermin sekaligus pertanyaan yang terus diajukan tentang siapa yang berkuasa, bagaimana kekuasaan itu memengaruhi masyarakat, dan apa yang tersisa jika nama-nama besar itu perlahan sirna.
“Kami menyuarakan apa yang kami lihat, rasakan, dan pikirkan. Sejarah dan politik bukan hal yang jauh ia ada di sekitar kita,”<span;> tutup mereka, menegaskan pesan utama di balik deru musik yang mereka usung.
Dengarkan dan ikuti karya Imperial Dyslexia melalui tautan berikut:
YouTube: Imperial Dyslexia Official
Spotify: Album / EP Tirani Empayar di Spotify






