Kemarau Panjang Picu Retakan Tanah di Bogor, Rudy Susmanto Ingatkan Ancaman Longsor saat Hujan

– Ancaman tanah menjadi salah satu kerawanan yang perlu diwaspadai di Kabupaten seiring turunnya hujan setelah periode kemarau panjang.

Retakan tanah yang muncul saat kondisi kering menjadi salah satu hal yang perlu diperhatikan ketika hujan dengan intensitas tinggi kembali mengguyur wilayah tersebut.

Bacaan Lainnya

Bupati Rudy Susmanto mengingatkan masyarakat agar tidak hanya menyambut hujan sebagai akhir dari persoalan kekeringan, tetapi juga mewaspadai potensi bencana yang dapat menyertainya.

Baca Juga: Lahan Bomang Makin Produktif, Satgas Pengawal Emas Panen Kangkung dan Tomat

“Kemarin terjadi kerawanan kekeringan, di beberapa wilayah masih terjadi kerawanan kekeringan. Tapi dengan kita berharap hujan turun, setelah hujan turun kita pun bukan hanya bersuka cita air kembali mengalir, tetapi ada beberapa titik-titik rawan di Kabupaten rawan terhadap longsor, rawan terhadap banjir,” kata Rudy pada Minggu, 11 Oktober 2026.

Menurut Rudy, kemarau panjang yang terjadi sebelumnya menyebabkan retakan tanah di sejumlah wilayah. Kondisi tersebut perlu menjadi perhatian karena air hujan yang masuk ke dalam retakan berpotensi menimbulkan bahaya longsor.

“Struktur tanah cukup berbeda. Saat panas kemarin cukup panjang, retakan-retakan tanah di beberapa wilayah terjadi. Jangan sampai hujan besar, retakan-retakan terisi air, akhirnya terjadi bahaya longsor,” ujarnya.

Baca Juga: Dua Pemuda Terseret Ombak Pantai Cibuaya Sukabumi, Tim SAR Sisir Laut hingga Radius 2 Mil

Selain mengantisipasi longsor, Pemerintah Kabupaten juga melakukan langkah mitigasi untuk mengurangi risiko banjir.

Salah satunya melalui pembukaan saluran air dan normalisasi saluran irigasi di sejumlah wilayah. Rudy menjelaskan, pembukaan saluran air tetap dilakukan meskipun belum terdapat aliran air.

Upaya tersebut merupakan langkah antisipasi agar air dapat mengalir dengan baik ketika hujan deras turun. Ia menambahkan, kondisi saluran yang belum dialiri air bukan berarti normalisasi tidak diperlukan.

Menurutnya, jalur air perlu dipersiapkan sebelum debit air meningkat saat hujan.

“Walaupun saluran airnya dibuka, airnya tidak ada, tetapi kita antisipasi pada saat nanti hujan terjadi, air akan mengalir, air tidak tersumbat,” jelasnya.

Normalisasi juga dilakukan pada saluran irigasi di wilayah Kemang, Ciseeng, Parung, dan Rancabungur.

Langkah ini ditujukan untuk memastikan jalur air yang telah dibentuk dapat berfungsi ketika curah hujan meningkat.

“Saluran irigasi yang kami normalisasi airnya tidak terlihat, tapi nanti pada saat hujan intensitas hujan mulai tinggi, hujannya cukup deras, jalur-jalur air yang sudah kami bentuk tadi nanti akan teraliri oleh air,” ungkap Rudy.

Rudy menegaskan, upaya mengantisipasi bencana tidak bisa hanya mengandalkan pemerintah daerah.

Masyarakat juga perlu meningkatkan kewaspadaan seiring perubahan kondisi cuaca dan meningkatnya potensi hujan.

“Tapi dengan adanya hujan, kita juga harus antisipasi bersama-sama,” tegasnya.

Ia berharap berbagai langkah mitigasi yang dilakukan dapat membantu mengurangi risiko banjir dan tanah longsor di Kabupaten .

Kewaspadaan masyarakat, terutama yang tinggal di kawasan rawan bencana, juga diperlukan untuk mengantisipasi kemungkinan bahaya saat hujan deras.

“Dan kita berupaya untuk mengantisipasi terjadinya banjir maupun tanah longsor yang ada di Kabupaten . Tetapi seluruh masyarakat juga harus bersiap,” pungkas dia.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *