PSEL Bogor Raya 1 Mulai Dibangun, Olah 1.500 Ton Sampah per Hari Jadi Energi Listrik

Astakamedia.com – bersama Pemerintah Kota Bogor, Pemerintah Provinsi Jawa Barat, pemerintah pusat, pihak swasta, dan masyarakat berkolaborasi membangun fasilitas Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL) Bogor Raya 1 di Desa Galuga, Kecamatan Cibungbulang, Bogor.

Pembangunan PSEL Bogor Raya 1 ditandai dengan kegiatan groundbreaking pada Kamis (17/9). Proyek tersebut menjadi bagian dari upaya mendorong pengelolaan sampah secara terintegrasi, mulai dari pengolahan hingga pemanfaatannya sebagai sumber energi.

Bacaan Lainnya

Menteri Koordinator Bidang Pangan Republik , Zulkifli Hasan, mengatakan persoalan sampah membutuhkan penanganan melalui kebijakan dan koordinasi pemerintah pusat, khususnya di daerah yang menghadapi kondisi darurat persampahan.
Ia mencontohkan Bogor yang memiliki timbulan sampah cukup besar dan sempat menghadapi kebakaran di kawasan Galuga.

Zulkifli mengapresiasi kolaborasi pemerintah daerah, TNI, PLN, dan berbagai pihak dalam pembangunan PSEL Bogor Raya 1. Fasilitas tersebut ditargetkan memiliki kapasitas pengolahan sekitar 1.500 ton sampah per hari sekaligus menghasilkan energi listrik.

“Dari sampah yang merusak lingkungan menjadi energi yang bermanfaat, menyerap tenaga kerja, dan lain-lain,” ujar Zulkifli.

Menurutnya, pemerintah menargetkan penyelesaian sejumlah proyek PSEL yang masuk kategori darurat secara bertahap hingga 2028. Selain itu, pengelolaan sampah dari sumbernya juga terus didorong, seperti di perkantoran, sekolah, pasar, dan pusat perbelanjaan.
Upaya tersebut menjadi bagian dari target mewujudkan lingkungan yang bersih dan asri pada 2029.

Sementara itu, Chief Investment Officer Danantara, Pandu Patria Sjahrir, mengatakan Danantara bersama kementerian dan lembaga terkait bergerak cepat dalam menangani persoalan darurat sampah di Indonesia, termasuk di wilayah Bogor.

Menurut Pandu, pembangunan PSEL Bogor Raya 1 merupakan tindak lanjut mandat pengembangan PSEL setelah diterbitkannya Perpres Nomor 109 Tahun 2025.

Ia menjelaskan, proses seleksi proyek tersebut didukung lebih dari 60 tenaga ahli dan profesional dari berbagai bidang. Para tenaga ahli tersebut memiliki pengalaman dalam proyek PSEL internasional di kawasan Asia Pasifik, Eropa, Timur Tengah, serta proyek PSEL di Indonesia.

“Keterlibatan tenaga ahli independen bersama tim Danantara dilakukan untuk memastikan proses pemilihan berjalan dengan tata kelola yang baik dan profesional, dengan dukungan keahlian teknis, operasional, hukum, finansial, dan lingkungan,” kata Pandu..

PSEL Bogor Raya 1 ditargetkan mampu mengolah lebih dari 500.000 ton sampah per tahun atau sekitar 45 persen dari timbulan sampah terolah di Kota dan Bogor.

Proyek tersebut juga diproyeksikan menurunkan emisi dari sampah di TPA hingga 80 persen serta mengurangi emisi karbon sekitar 640.000 ton setara CO₂ per tahun.
Dari sisi energi, PSEL Bogor Raya 1 ditargetkan menghasilkan energi hijau yang mampu menyuplai kebutuhan lebih dari 100.000 rumah tangga di wilayah Bogor Raya.

Sementara dari sisi ekonomi, proyek ini diproyeksikan menciptakan lapangan kerja bagi sekitar 1.200 orang serta mengurangi kebutuhan lahan TPA hingga sekitar 80 persen.

Wakil Menteri Dalam Negeri mengatakan persoalan sampah di Bogor Raya merupakan masalah menahun yang membutuhkan penanganan secara terintegrasi.

Total timbulan sampah dari Kota dan Bogor disebut dapat mencapai sekitar 4.000 ton per hari.

Menurut Bima, pembangunan PSEL menjadi salah satu langkah penting dalam menangani persoalan tersebut. Namun, ia menegaskan groundbreaking bukanlah tahap akhir, melainkan awal dari proses panjang yang membutuhkan dukungan berbagai pihak.

Pemerintah daerah diminta memastikan ekosistem pengelolaan sampah di hulu dan hilir berjalan dengan baik, mulai dari kepastian suplai sampah, distribusi, dukungan masyarakat, perizinan, hingga tata kelola.

“Kita berharap tentunya Pak Wali Kota dan Pak Bupati dapat memastikan ekosistem di hulu dan di hilir berjalan dengan baik,” ujar Bima.

Bima juga menekankan pentingnya koordinasi antara pemerintah provinsi, pemerintah kota, dan pemerintah agar pelaksanaan PSEL berjalan optimal. Kemendagri, kata dia, siap memfasilitasi apabila terdapat persoalan yang menjadi hambatan dalam pelaksanaan proyek.

Ia berharap PSEL Bogor Raya dapat menjadi benchmarking atau contoh pengelolaan sampah bagi kota-kota besar di Indonesia dalam mewujudkan kota yang bersih dan sehat.

Di sisi lain, Menteri Lingkungan Hidup menyampaikan bahwa pembangunan PSEL merupakan bagian dari upaya menyelesaikan persoalan sampah secara bertahap.

Saat ini, pengembangan PSEL baru mencakup sekitar 60-an /kota, sementara masih terdapat sekitar 400-an /kota yang membutuhkan penanganan persoalan sampah.

“Penyelesaian persoalan sampah membutuhkan kolaborasi berbagai pihak sekaligus membuka ruang bagi pemanfaatan beragam teknologi. Selain teknologi berbasis elektrik, pengelolaan sampah dapat memanfaatkan teknologi pirolisis, Refuse Derived Fuel (RDF), recycling, serta teknologi lainnya sesuai kebutuhan,” jelasnya.

Ia juga mengapresiasi langkah Menteri Koordinator Bidang Pangan dalam mempercepat koordinasi dan pengambilan keputusan terkait pembangunan PSEL.

Kepala Badan Pengendalian Pembangunan dan Investigasi Khusus (BAPPISUS), Aries Marsudiyanto, menegaskan bahwa penanganan sampah merupakan bagian fundamental dari agenda pembangunan yang berkaitan dengan pangan dan air, energi, teknologi, serta lingkungan.

Menurut Aries, PSEL menjadi salah satu terobosan yang mensinergikan aspek teknologi, energi, dan lingkungan. Karena itu, koordinasi, komunikasi, dan kolaborasi antar kementerian/lembaga perlu terus diperkuat untuk mengatasi berbagai hambatan dalam pelaksanaan proyek.

Ia juga mengingatkan bahwa pembangunan PSEL menggunakan uang negara sehingga seluruh prosesnya harus dapat dipertanggungjawabkan.

“Ini uang rakyat. Harus dipertanggungjawabkan setiap bidang, setiap departemen, setiap lini, untuk selalu mengedepankan pengabdian dan pengorbanan kepada rakyat. Jangan ada yang mementingkan keuntungan diri pribadi,” tegas Aries.

Pembangunan PSEL Bogor Raya 1 diharapkan menjadi solusi jangka panjang dalam menangani persoalan sampah sekaligus mendukung penyediaan energi bagi masyarakat.

Fasilitas tersebut ditargetkan mampu mengurangi beban TPA, menekan emisi, membuka lapangan kerja, serta memberikan manfaat ekonomi dan lingkungan bagi masyarakat di wilayah Bogor Raya.

Kolaborasi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, masyarakat, swasta, dan seluruh pemangku kepentingan menjadi faktor penting untuk memastikan pembangunan hingga pengoperasian PSEL Bogor Raya 1 berjalan sesuai tujuan.

Proyek tersebut diharapkan turut mendukung terwujudnya Indonesia yang bersih dan ASRI, yakni Aman, Sehat, Resik, dan Indah.***

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *