Astakamedia.com – Masyarakat Indonesia dikenal gemar mengonsumsi nasi dalam keadaan panas atau baru saja matang. Namun, sebuah temuan terbaru dari pakar kesehatan mengingatkan bahwa kebiasaan ini sebaiknya tidak dilakukan secara berlebihan karena bisa berdampak negatif bagi kesehatan.
Mengonsumsi nasi yang terlalu panas terutama saat masih mengeluarkan uap berisiko menyebabkan iritasi pada saluran pencernaan bagian atas, seperti kerongkongan dan lambung.
Suhu panas bisa merusak lapisan mukosa pada kerongkongan, terutama jika dikonsumsi secara terus-menerus dalam jangka panjang.
Selain itu, dalam beberapa penelitian internasional, konsumsi makanan dan minuman panas dalam suhu lebih dari 65°C berhubungan dengan peningkatan risiko kanker esofagus (kerongkongan).
Badan Kesehatan Dunia (WHO) melalui International Agency for Research on Cancer (IARC) bahkan mengkategorikan konsumsi minuman panas sebagai salah satu faktor risiko potensial.
Nasi panas juga sering dikonsumsi terburu-buru, tanpa dikunyah sempurna, yang bisa menyebabkan gangguan pencernaan seperti maag, kembung, atau rasa tidak nyaman di perut.
Meskipun nasi panas terasa lebih lezat bagi sebagian orang, ada baiknya mulai membiasakan diri untuk menunggu suhu makanan sedikit turun. Dengan langkah sederhana ini, risiko gangguan kesehatan akibat konsumsi makanan bersuhu tinggi bisa dikurangi.***






