Astakamedia.com — Dalam rangkaian kegiatan IUCN World Conservation Congress 2025, Belantara Foundation bersama Universitas Pakuan menyuarakan pentingnya pendekatan koeksistensi dalam mitigasi konflik antara manusia dan gajah sumatra.
Gagasan ini dipresentasikan dalam panel bertajuk “A Conservation Partnership Fighting to Protect Biodiversity in Asia” yang diselenggarakan di Asia Pavilion, Abu Dhabi, Uni Emirat Arab.
Panel ini merupakan inisiatif dari Conservation Allies, organisasi konservasi asal Amerika Serikat, yang mempertemukan berbagai mitra konservasi dari Asia, termasuk dari India, Bhutan, Kamboja, Malaysia, Filipina, dan Indonesia.
Dalam kesempatan tersebut, Belantara Foundation menggandeng Universitas Pakuan untuk mempresentasikan makalah berjudul Coexistence in the Making: From Human Elephant Conflict to Harmony in Industrial Landscape” atau Mengupayakan Koeksistensi dari Konflik Gajah menuju Harmoni di Lanskap Industri.
Menurut data, populasi gajah sumatra mengalami penurunan drastis dalam beberapa dekade terakhir.
Dari sekitar 2.800–4.800 individu pada 1980-an, jumlahnya menyusut menjadi sekitar 928–1.379 individu pada tahun 2019, tersebar di 23 kantong populasi yang terisolasi di seluruh Pulau Sumatra.
Dr. Dolly Priatna, Direktur Eksekutif Belantara Foundation sekaligus dosen di Sekolah Pascasarjana Universitas Pakuan, menjelaskan bahwa konflik manusia-gajah menjadi salah satu faktor utama penurunan populasi tersebut, selain kehilangan habitat dan perburuan.
Salah satu wilayah yang menjadi perhatian utama adalah Lanskap Sugihan Simpang Heran di Kabupaten Ogan Komering Ilir, Sumatera Selatan, yang menjadi habitat penting bagi sekitar 100–120 individu gajah liar.
“Konflik antara manusia dan gajah kerap menimbulkan kerugian ekonomi bagi masyarakat, dan ini menurunkan toleransi mereka terhadap keberadaan gajah,” jelas Dolly.
Pendekatan koeksistensi menjadi solusi yang kami dorong, agar manusia dan gajah dapat hidup berdampingan secara harmonis, terutama di kawasan yang merupakan mosaik dari hutan, perkebunan, pemukiman, dan kawasan konservasi.
Belantara Foundation bersama para mitra telah mengembangkan berbagai inisiatif untuk mendukung upaya ini, antara lain peningkatan kapasitas kelompok mitigasi konflik, penyediaan menara pemantauan, edukasi lingkungan bagi anak-anak, pengayaan pakan gajah dan pembuatan artificial saltlicks atau tempat menggaram buatan.
Dolly menekankan bahwa semua pihak perlu terlibat pemerintah pusat dan daerah, pelaku usaha, akademisi, lembaga konservasi, hingga media.
“Koeksistensi tidak bisa dibangun sendiri-sendiri. Diperlukan sinergi lintas sektor dan komitmen bersama untuk mewujudkannya,” ucapnya.
Presiden Conservation Allies, Dr. Paul Salaman, menyampaikan dukungan penuh terhadap upaya konservasi gajah sumatra yang dilakukan Belantara Foundation.
“Kami berkomitmen untuk mendukung program ini melalui hibah, penggalangan dana publik, dan peningkatan kapasitas. Dana akan dikelola secara transparan dan dialokasikan sepenuhnya untuk kegiatan lapangan,” tegasnya.
Dukungan juga datang dari pemerintah Indonesia. Dirjen KSDAE Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan RI, Prof. Dr. Satyawan Pudyatmoko, M.Agr.Sc., yang turut hadir dalam panel, menyambut baik kemitraan ini.
“Gajah sumatra merupakan satwa dilindungi yang kini berstatus Critically Endangered menurut IUCN dan termasuk Appendix I CITES. Inisiatif ini sangat strategis untuk mendukung upaya nasional dalam menciptakan harmoni antara manusia dan gajah, khususnya di Lanskap Sugihan Simpang Heran,” ujarnya.
Melalui keterlibatan aktif di forum konservasi dunia ini, Belantara Foundation dan Universitas Pakuan menegaskan komitmen mereka untuk mengembangkan model koeksistensi yang berkelanjutan dan inklusif, demi masa depan gajah sumatra dan masyarakat yang hidup berdampingan dengannya.***






