Bukan Sekadar Gizi, PARAMUDAMUDI Bedah Dampak Ekonomi Program MBG bagi Petani dan Lapangan Kerja

Astakamedia.com – Puluhan anak muda dari berbagai latar belakang berkumpul di Fairway Cafe, Bogor, pada Jumat (8/5/2026) untuk menyuarakan aspirasi mereka terhadap kebijakan pemerintah.

Melalui forum diskusi bertajuk “Stay Aware, Stay Positive: Diskusi Gen Z Soal Pemerintah”,

Bacaan Lainnya

Komunitas PARAMUDAMUDI mengajak generasi muda untuk lebih melek informasi dalam mengawal program nasional, khususnya Program Makan Bergizi Gratis (MBG).

​Acara ini dihadiri oleh pelajar dan mahasiswa dari IPB University, SMK Tridharma 4, SMAN 7 Bogor, hingga SMAN 97 Jakarta.

Tak hanya akademisi, berbagai komunitas mulai dari sektor otomotif, thrifting, agensi kreatif, hingga pelaku industri kreatif turut memadati lokasi diskusi.

​Ketua Penyelenggara sekaligus Koordinator PARAMUDAMUDI, Emir Zabidi, menjelaskan bahwa forum ini dibentuk sebagai ruang terbuka bagi Gen Z untuk memahami dampak nyata kebijakan pemerintah di lapangan, agar tidak hanya terjebak pada potongan informasi di .

​”Diskusi ini dibuat agar Gen Z punya ruang untuk menyampaikan support, pendapat, aspirasi, maupun kritik terhadap kebijakan pemerintah, terutama soal MBG. Kami ingin anak muda bisa melihat secara langsung dampak positif program tersebut di masyarakat,” ujar Emir dalam keterangannya, Jum’at malam (8/5).

​Emir yang juga menjabat sebagai Ketua (Induk Koperasi Tani dan Nelayan) Inkoptan Bogor menambahkan, banyak generasi muda yang saat ini menilai kebijakan hanya berdasarkan informasi parsial di dunia maya tanpa memahami kondisi faktual.

​” bukan hanya soal pendidikan dan gizi, tetapi juga soal kesejahteraan. Saya melihat sendiri bagaimana petani menjadi lebih semangat karena hasil pertanian mereka lebih terserap. Keberadaan dapur MBG juga berkontribusi terhadap penyerapan tenaga kerja,” lanjutnya.

​Ia memaparkan data bahwa satu unit dapur MBG mampu mempekerjakan sekitar 40 hingga 50 orang. Dengan jumlah dapur yang terus bertambah di seluruh , program ini dinilai menjadi solusi nyata bagi penyerapan massal.

​Senada dengan hal tersebut, Dhany Ducun, seorang komika yang hadir sebagai pembicara, menilai memiliki nilai kemanusiaan yang tinggi.

Ia menyoroti fakta masih banyaknya siswa yang harus menuntut ilmu dengan perut kosong.

​”Program ini menurut saya hadir dengan niat yang baik. Masih banyak anak yang berangkat sekolah tanpa dan hal itu tentu memengaruhi proses belajar mereka. Selain membantu kebutuhan gizi, MBG juga membuka peluang kerja bagi masyarakat,” kata Dhany.

​Sesi diskusi berlangsung hangat saat memasuki sesi tanya jawab. Perwakilan komunitas thrifting Vintage2nd, Rizki Tanjung, melontarkan pertanyaan krusial mengenai potensi limbah dari dapur MBG agar tidak terbuang sia-sia.

​Menanggapi hal tersebut, Erika dari TM Agency memberikan solusi aplikatif.

Ia menjelaskan bahwa sisa dari proses produksi dapur MBG dapat diolah kembali menjadi sesuatu yang bermanfaat secara ekologis maupun ekonomis.

​”Sisa dari dapur MBG bisa dijadikan fermentasi eco-enzyme untuk pupuk cair atau diolah kembali menjadi pakan ternak,” terang Erika di hadapan peserta.

​Saran konstruktif juga datang dari Mutia, perwakilan agensi kreatif TM Agency.

Ia menyarankan agar setiap Satuan Pelayanan Perangkat Gizi (SPPG) di tiap dapur memiliki akun media sosial yang aktif.

Menurutnya, konten digital yang transparan mengenai proses pembuatan akan meningkatkan kepercayaan masyarakat serta para penerima manfaat.

​Di penghujung acara, PARAMUDAMUDI menegaskan sikap mereka untuk berdiri sebagai mitra strategis pemerintah yang suportif namun tetap kritis.

Emir Zabidi berpesan agar Gen Z tidak meninggalkan nalar kritis mereka meski mendukung sebuah kebijakan.

​”Sebagai Gen Z, kita harus tetap mendukung program pemerintah sekaligus mengawalnya secara konstruktif dengan data dan fakta, bukan hanya kritik tanpa dasar,” pungkas Emir.***

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *